Saturday, January 18, 2014

"Pada akhirnya, keputusan ini datang bukan dari hasil pemikiran yang seadanya"


Well, so here I come to you, blog! Ive been missing you a lot but time doesnt let us to gather these times. Hahaha no, im kiddin. Gue cm males untuk nulis, meskipun sebenernya there were a looooottttt of moments to be shared. But ok, go on.

Btw, brp taun gue cuti blogging? Haha.

Ga kerasa, baru kemarin gue posting ttg MOS, ttg gmn masuk OSIS, tentang gimana raport gue di kelas 2, dan sekarang... Jeng jeng.. My SHS period is almost fully charged!

Right these times, anak anak kelas 12 lagi galau milih jurusan dan fakultas gitudeeeeh. Eh serius ya, entah ini gue yang terlalu mendramatisir atau emg faktanya, BUT DECIDING IS FUCKIN SO HARD!!!!! 

On this point, i would like to share. Detik ini, ketika gue nulis postingan ini, gue udah memutuskan untuk memilih prodi X sebagai pilihan utama gue. Insyaallah, ini ga akan berubah. Gue udah cape galau-galau tak berujung, hiks. 

Beberapa yg baca postingan ini mgkn udah tau gue mau kemana, tp dsini gue ga akan nyebutin secara spesifik. Yang baca tolong diaminin ajadeh, apapun pilihan gue ehehe.

Untuk sampai pada keputusan "oh okay, i decide to choose X for my first choice" was not as easy as you say "ah bullshit". Bagi gue, memutuskan apapun yg terkait masa depan butuh pemikiran yang panjang, yang matang, yang gak cuma beberapa hari terus kamu bisa langsung mutusin, fix ini. Butuh air mata, butuh pinter pinternya mengempower dirimu sendiri, butuh suggestion dari banyak pihak yang kamu pikir berkompeten. Karena, wait, masa masa kelas 12 skrg adalah masa butuh butuhnya motivator, nah jangan sampe km memilih motivator yg salah. Karena kita cenderung akan "memakan mentah mentah what they are saying" , nah bahayanya kita bisa aja mengurungkan niat atau rencana yg mgkn udah kita persiapkan, ketika sang motivator itu justru mengatakan kabar kabar burung yg widely spread toward the society. Kita jadi mikir.. "Ah kok ternyata seberat itu ya, aku ganti haluan ajadeh" sumpah ya, hal-hal kayak gitu yg harus bgt dihindarin. Jangan segampang itu kamu nyerah. But i underline, gue yakin yang baca orang orang pinter semua, bukan berarti kita ga realistis loh. Cuma pinter pinternya aja kita menyaring informasi. 
Dan tiba tiba, gue inget 2 tahun lalu, ini tentang memutuskan masa depan juga, yaitu ketika gue curhat di ruang BK sampe nangis nangis grgr udah hari H pengumpulan angket jurusan gue msh belum memilih ipa atau ips. Satu satunya hal yg gue takutkan waktu itu adalah "underestimate dr orang lain" kalo gue milih ips. Orang orang diluar sana kan gatau kalo gue milih ips, yg mereka tau sebatas "oh dia anak ips" dan parahnya lagi ketika mereka msh punya pemkiran konservatif bahwa "ah anak ips, berarti yg ga masuk ipa" oh what the hell.. Cuma kalimat kalimat itu yg bikin gue susah untuk fix bunderin kolom ips. Entah kenapa gue adalah orang yang sangat peduli tentang pandangan orang. Tapiiiii... Setelah gue menjalani 2 tahun sbg anak ips, gue ngrasa bangga, gue gak nyesel sama sekali, sama sekali, dan yg paling pntg.. Ga pernah mendapatkan 'underestimate' itu. Semuanya balik ke kualitas diri sendiri sih, dimanapun, apapun yg kamu pilih, ketika diri kita ga berkualitas, pasti ada kemungkinan untuk di underestimate.

Ketika ada yang bilang "kalo masuk ipa kan ntar bisa ambil jurusan ips juga, fieldnya lebih luaaaas" gue pikir, itu bukan masalah buat gue. Apa yang gue pengen, semua ada di IPS. IPS udah lebih dari cukup untuk menampung minat minat gue. Thats why I say gue ga pernah nyesel masuk ips. Dan ketika galau penjurusan fakultas pun gue gak disibukkan pengen IPC, HAHAK ups. At least, gue bingung memutuskan yang mana di field gue sendiri, bukan di field orang lain.

Oke ngelanturrrrr karena gue sebenarnya agak sensi kalo ngomongin IPC. Hm.
Back to the topic, pilihan gue bukanlah sebuah hasil dari pemikiran yang seadanya dan singkat. Dari awal masuk ips, gue udah memikirkan. Gue tau, resikonya besar, besar banget. Tapi, itu adalah mimpi men, itu adalah passion, itu adalah apa yg ingin kamu lakukan ketika kamu memutuskan IPS. Pernah waktu itu mama bilang "knp ga sekalian akuntansi ui aja? Kalo yang itu masih terlalu mblarah." Dan aku bilang "mah, kalo aku MINAT aku pasti ambil kok. Tp masalahnya, aku dah berkali kali mencoba jatuh cinta ke jurusan lain, okelah aku emang jatuh cinta, tapi cuma sekedar jatuh cinta, gak tulus. Hatinya masih aja ga sreg." Waktu itu mmg aku sempet goyah, mau milih akuntansi atau managemen, krn kalo diliat dari peluang kuotanya emg lebih banyak itu. Dan sebenarnya.. Dari prospek kerja, siapa sih yg gamau nerima lulusan akuntansi? Semua elemen butuh. But again, hati nurani mengatakan aku tidak cocok jadi anak akuntansi.

Tapi waktu itu gue masih dalam keadaan diterpa badai dilautan lepas that no one was there till someone.... Put my tears away. Halah, barusan itu fiksi dan terlalu alay-_- intinya he gave me motivations, "ayo fi, jangan sampai pilihan yang itu lepas. Sekuat kuatnya, jangan dilepasin. Semangat!!" Entah kenapa, cuma kata kata itu yg gue inget padahal waktu itu curhat sampe 3 jam lebih lamanya. Zzzz -_- karena kata kata itu yg berhasil bikin gue back to my initial goal. Saat itu, langsung gue bilang ke dia "oke, bismillah, aku bakal mempertahanin. Habis ini, kalo ada orang yang nanya aku mau jurusan apa at least aku dah bisa jawab. Aku dah capek galau teruuuusss! Bismillah."
Belum selesai di titik itu, gue browsing setiap hari, gue cari kisah kisah perjuangan mahasiswa dalam menggapai impiannya, well gue emg ga jauh jauh dari sikap alay-_- gue cari kisah kisah inspiratif dan memotivasi.. Hahahak krn yg gue butuhin bukan lagi external suggestion,tapi internal that comes from my soul. Sebisa bisanya gue bentuk mental dulu. Sampai akhirnya aku menemukan blog seseorang.. Yang aku tau profilnya dia sedikit, dia bilang di salah satu postingannya "gue pgn bgt bisa ngeraih itu, gue penasaran sm diri gue sendiri, gue bisa atau enggak. Kalopuuuuun, nanti hasilnya ga sesuai apa yang gue mau, berarti oke, gue udah nyoba, dan ternyata bukan gue, sosok yang mereka cari. Habis itu gue udah bisa langsung move on ke jurusan lainnya, mempersiapkan yang lainnya. Karena gue udah tau jwaban yg selama ini jadi misteri. Yang jelas, gue udah gak penasaran lagi, apakah gue bisa atau engga." Dan itu bener bener.... Kata kata yang... Ah gangerti gimana ngomongnya, tapi itu jadi sebuah kekuatan tersendiri. 

At last, gue cuma bisa memotivate kalian yg mgkn masih diterpa badai taifun atau apa.. Intinya "biarkan mimpimu tetap hidup, jangan mudah ter intervensi, udah saatnya kalian idealis demi masa depan kalian, udah saatnya kalian menutup telinga ketika kalian sudah memutuskan, karena keputusan yang dibuat bukanlah hasil pemikiran yang seadanya kan? Pasti udah dipikirin mateng mateng, sangat lama, through ups and downs. Jngan biarkan intervensi yang HANYA beberapa detik di propagandakan, mengubah apa yang sudah kamu rumuskan berbulan bulan, bahkan betahun tahun." Bismillah :)